24 Maret 2009

# Puisi: berharap sang penolong..

Diri ini..
layaknya angin..
mampu mendorong awan..
namun tak pernah tahu..
dimana akhir dari tujuan..

Ooh sungguh malang..
diri ini..
terhenti dalam kalah..
terdiam memutus asa..
dan menuai..
lebih banyak lagi salah..

Tapi biarkan angan..
terus berjalan..
berharap Sang Penolong..
kan berubah menuntun jalan..

Wahai sebaik-baiknya menolong..
benamkan ketidakberdayaan..
terangi kami dengan kemuliaan..
(Sandy TheDreamer)

23 Maret 2009

# Puisi: Karena diriku..

Jiwaku..

bukanlah nafas yang gerakkan hidup ini..

Sejatiku..

bukanlah ruh yang terbungkus raga ini..

Penggerakku..

bukanlah hati yang diselimuti nafsu ini..

Tujuanku..

bukanlah pikiran yang dikuasai angan-angan ini..

Kekuatanku..

bukanlah nafsu yang menggoda hidup ini ..

 

Karena Diriku..

takkan pernah ada..

dan kan tiada..

(Sandy TheDreamer)

# Artikel sufi: 6 Hikayat Imam Ghazali

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya:

Hikayat 1:

Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita didunia ini?”

Murid 1 = ” Orang tua “

Murid 2 ” Guru

Murid 3 = ” Teman “

Murid 4 = ” Kaum kerabat

Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa  pasti akan mati (Ali-Imran :185).

 Hikayat 2:

Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”

Murid 1 = ” Negeri Cina “

Murid 2 = ” Bulan”

Murid 3 = ” Matahari “

Murid 4 = ” Bintang-bintang “

Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita  harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari  yang akan datang dengan  perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

 Hikayat 3:

Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar didunia ini ?”

Murid 1 = ” Gunung “

Murid 2 ” Matahari “

Murid 3 = “  Bumi “

Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita,jangan sampai nafsu kita membawa ke  neraka.”

Hikayat 4:

Imam Ghazali = ” Apa yang paling berat didunia

Murid 1 = ” Baja”

Murid 2 = ” Besi”

Murid 3 = ” Gajah “

Imam Ghazali” Semua itu benar, tapi  yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Al-Azab : 72).  Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika  Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi  manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang  amanah.” 

Hikayat 5:

Imam Ghazali = ” Apa yang paling  ringan di dunia ini ?”

Murid 1 = ” Kapas”

Murid 2 “  Angin “

Murid 3 = ” Debu “

Murid 4 = “  Daun-daun”

Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “

 Hikayat 6:

Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali didunia ini”

Murid- Murid dengan serentak menjawab = “Pedang “

Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

(By: Imam Ghazali, dikutip dari: www.ainuamri.wordpress.com) 


# Puisi: Cinta Maha Dahsyat..

Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjadi keberuntungan
Karena cinta rumah penjara nampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta timbunan debu kelihatan sebagai taman
Karena cinta api berkobar menjadi cahaya menyenangkan
Karena cinta Saytan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa tidak menakutkan bagaikan tikus
Karena cinta sakit menjadi sihat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan
(by: Jalaluddin Rumi, dikutip dari: www.bangfad.com)